Media Suara Mabes, Surabaya – Kebijakkan Menteri Pertanian atas kemudahan untuk masyarakat Indonesia mendapatkan berbagai kebutuhan pertanian dari bibit hingga pupuk telah berjalan sesuai yang diharapkan.
Namun dalam perjalanan, pendistribusian pupuk dari Surabaya ke Berau Kaltim telah ternoda atas ulah Customer berinisial BS menggunakan PT ASP yang beralamat di Surabaya dengan terus melakukan penundaan terhadap biaya pengiriman hingga mencapai dua ratus juta rupiah lebih.
Sudah beberapakali dilakukan pendekatan dan dilakukan somasi terhadap BS dimana akhirnya BS secara sadar mengeluarkan surat Pernyataan Kesanggupan membayar atas hutangnya seminggu setelah surat pernyataan dibuat dan siap mempertanggungjawabkan di hadapan hukum jika pernyataannya tidak ditepati.
Hingga berita ini diturunkan, niat baik BS untuk menyelesaikan kewajibannya tidak terlaksana dan bahkan sulit untuk bisa dihubungi.
Dalam melakukan aksinya, BS bekerja sama dengan HP di Jakarta yang mengaku mendapat proyek langsung dari Kementan untuk pendistribusian Pupuk ke wilayah Berau – Kaltim.
“Kami sudah melakukan pengiriman pupuk sesuai dengan order namun saat ditagih biaya pengiriman, terkesan ribet dan blunder”, ujar Antok sebagai pihak ekspedisi yang dirugikan.
“Awalnya kami sedikitpun tidak curiga akan terjadi kecurangangan seperti ini, karena Menteri Pertanian begitu disiplin atas semua proyek ditanganinya, jika ini terjadi kepada kami maka kami harus lapor Pak Menteri, ” tambahnya
Bahkan dalam hasil pembicaraan via WA, Heri Purnomo berjanji akan segera bertemu dengan Kepala Dinas Pertanian Berau untuk menyelesaikan pembayaran.
“Sungguh mulut sulit dipercaya, janji tinggal janji dan hingga sekarang belum ada janji yang terealisasi, sementara kami terus dikejar para agen expedisi yang belum terbayar, langkah terakhir kita ambil langkah hukum, ” pungkasnya
(Dasantos)





