Diterjang Badai Digital, Pedagang Pasar Kramat Jati Keluhkan Penurunan Omzet Hingga 90 Persen

7
0

MediaSuaraMabes, Jakarta — Sektor perdagangan ritel tradisional di Jakarta Timur kian menghadapi tekanan. Pasar Kramat Jati yang selama puluhan tahun menjadi pusat ekonomi warga, kini dinilai terdampak pergeseran perilaku belanja masyarakat ke platform daring (e-commerce), sehingga membuat aktivitas jual beli di pasar menurun drastis.

Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana lesu terlihat terutama di area belakang pasar. Sejumlah kios tampak tertutup dan sebagian ditinggalkan pemiliknya. Pedagang menyebut kondisi tersebut terjadi karena pemasukan tak lagi sebanding dengan biaya operasional yang harus tetap berjalan.

Marinah, pedagang warung makan di dalam pasar, mengaku pendapatannya turun signifikan dibanding masa ramai sebelumnya.

“Dulu kalau sudah jam 2 siang makanan sudah habis dan saya bisa istirahat. Sekarang, jam 4 sore saja masih sisa banyak. Dulu bisa dapat Rp 5 juta per hari, kini mencapai ratusan ribu rupiah saja sulit,” ujar Marinah saat ditemui tim media.

Keluhan serupa disampaikan Joko, pedagang seragam dan alat tulis sekolah. Menurutnya, tren belanja online membuat peta bisnis berubah cepat. Pada masa puncak seperti musim libur sekolah, ia mengaku bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah. Namun kini, mencapai Rp 1 juta per hari pun terasa berat.

Di tengah turunnya jumlah pembeli, pedagang juga mengeluhkan beban biaya operasional yang dinilai tidak berbanding lurus dengan kondisi lapangan. Salah satu yang paling dikeluhkan adalah biaya listrik yang tetap ditagih normal, tanpa adanya kebijakan insentif atau kompensasi, meski pendapatan pedagang menurun.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Pasar Kramat Jati telah memberikan izin peliputan kondisi pasar. Namun mereka belum memberikan komentar resmi terkait langkah penanganan atau strategi yang disiapkan untuk merespons sepinya aktivitas perdagangan di pasar tersebut.

Pasar Kramat Jati merupakan salah satu pasar tradisional strategis di Jakarta Timur yang menyediakan kebutuhan pokok, pakaian, hingga kuliner. Saat ini, pasar tersebut disebut sedang berjuang menghadapi transisi pola konsumsi masyarakat dari belanja fisik ke belanja digital.

(Indra SKB)